Jumat, 21 November 2014
Our Galery "Sedikit mengulas tentang kalian teman-teman terbaik :D "
Our Galery "Sedikit mengulas tentang kalian teman-teman terbaik :D "
Third gen baris merapat !!!
ini dia absen 1-3 (yang laen kapan-kapan ya)
*maap jika ada foto-foto yang tidak terduga :D
Afif Syarifuddin Yahya
Masih inget? siapa coba'? yeah .... ini nih "CAH GANTENG" nya third gen :D ..
sebelum terlalu jauh kita intip dulu foto-foto APIP dari masa ke masa ,, okay ! LETS!
ya... ini nih ..mau lebih banyak lagi? ane punya banyak kok :Dmasih inget juga ngga waktu kelas VIII ,, setiap pelajaran Bahasa Indonesia ,,,
" dibaca Afif Syarifuddin Yahya "
beberapa menit kemudian
" maju ke depan Afif Syarifuddin Yahya"
next ..
" di baca Agus Supriyanto"
de es te :D
cukup-cukup ,,
udah tau tho ,, sekarang CAH GANTENG kelahiran 21 Oct menimba air *eh menimba ilmu di MA NU TBS Kudus .... *calon yai ape nyaingi Ahmad Mahardika :D
Bisa di bilang Apip itu lumayan cuek ,, bisa terlihat dari jarangnya ikut even third gen ,,, but it's okay , yang pasti tetep ngerasa jadi keluarga kita itu cukup ,, right ? haha :D
to be continue~
Agus Supriyanto
,, karena apa? ya ane takut aja :D
Buat yang nggak tahu ,, foto yang atas itu waktu Bowo sama Agus dapet juara tiga lomba PMR (materi) di SMK Bahtera Pati.
Leader kita ini kan sekarang sekolahnya jauh pake bingits , jadi maap ya kalo jarang pulang ke Jawa ,, mohon dimaklumi..
padahal kalo ada Agus itu rasanya lengkap :D *hiks hiks :'(
next ... kayaknya di IC Agus jadi tambah cool , iya kagak sih :D
peace
peace ... tapi bener kok :D .. oh ya manusia 0104 ini cocok untuk di
ajak curhat atau konsultasi *kaya guru BK aja ya :D ,, de es teto be continue~
Ahmad Mahardika
okay fix ,,, Dika kalo nggak salah lahir satu hari sebelum Imam lahir or 120698 ,,
Ini tidak sengaja pemirsa,,, nggak sengaja dapet foto ini sama ini ... wow pak Yai sekarang gitu :D *peace dik
Pak
Yai sekarang sekolah di sekolah dimana dua cewek berkamata yang di
sampingnya itu sekolah ... bisa dilihat dari seragamnya,, right itu
seragam MAN 2 Kudus ... eh Jadi inget waktu atok ngamuk-ngamuk ngelempar vas bunga terus ditangkap Pak Yai ... wow itu hebat bingits :D
to be continue
Untuk Third Generation
Untuk Third Generation
Untuk Third Generation
Oleh Yuhuu Muchamad
langkahku terhenti
menopang hati dan mimpi
kusapu awan dilangit
indahnya langit ini
kita nikmati bersama
dalam angan dan bayangan
namun,
kucoba melangkahkan kakiku
derap demi derap
aku ayunkan dengan pasti
menuju suatu arah
dari arah itu
semburat cahaya putih menyilaukan
cahayanya terang namun mendamaikan
dari sanalah
aku melihatmu
dibalut jaz alamater kebesaran
dengan senyum yang memesona
dengan wajah nirwana
tapi sekarang
kau semakin jauh
jauh,
jauh,
tak tergapai oleh jemari-jemariku
akankah kau akan dekat kembali
sahabatku,
saudaraku,
temanku,
Oleh Yuhuu Muchamad
langkahku terhenti
menopang hati dan mimpi
kusapu awan dilangit
indahnya langit ini
kita nikmati bersama
dalam angan dan bayangan
namun,
kucoba melangkahkan kakiku
derap demi derap
aku ayunkan dengan pasti
menuju suatu arah
dari arah itu
semburat cahaya putih menyilaukan
cahayanya terang namun mendamaikan
dari sanalah
aku melihatmu
dibalut jaz alamater kebesaran
dengan senyum yang memesona
dengan wajah nirwana
tapi sekarang
kau semakin jauh
jauh,
jauh,
tak tergapai oleh jemari-jemariku
akankah kau akan dekat kembali
sahabatku,
saudaraku,
temanku,
Third Rainbow [1] World Cup Pertama dan Terakhir
Third Rainbow
[1]
World Cup Pertama dan Terakhir
Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Jangan
salahkan pertemuan, jika berakhir dengan
perpisahan. Jangan salahkan waktu yang telah membuat semuanya berjalan begitu
cepat. Namun salahkan dirimu, yang belum mampu memanfaatkan waktu antara pertemuan
dan perpisahan…
“Cepat sedikit dong, Bu, Annisa udah nggak sabar
nih,” desakku pada ibu untuk segera berangkat.
“Iya, iya, Sayang. Nggak sabar kenapa sih?”
tanya ibu. Lalu masuk ke dalam mobil.
“Ya, aku pengin ketemu teman-teman baru,”
jawabku.
Sebenarnya dorm-nya nggak terlalu jauh, hanya
puluhan kilo saja. Namun bawaanku banyak sekali. Maklum saja, pindahan pertama
kali, sih.
Selama dalam perjalanan, aku diam. Tak banyak
bicara. Namun hati menggebu-gebu ingin segera sampai tujuan. Ayah dan ibu juga
diam. Hanya beberapa patah kata nasehat. Selebihnya, mbah putriku yang terkenal
teliti (kalau nggak boleh di bilang cerewet) telah membicarakannya.
Aku menatap jauh ke luar jendela mobil. Menekuri
titik-titik air yang jatuh dari langit. Menyisakan dingin di hatiku. Aku makin
tidak sabar untuk sampai ke dorm. Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku, aku juga
ingin melihat wajah seseorang di sana… Di Azza Islamic Boarding School…
*---3rd
Gen---*
Aku sampai di depan gerbang dorm (asrama).
Aku berjalan di depan. Sampai juga rombongan kami di ruang tamu. Di sana ada seseorang laki-laki. Tinggi sekali!
Tampaknya pengurus dorm. Ia menerima kedatangan kami. Lelah tergambar jelas di
wajahnya. Namun tetap ramah menyambut kami.
Aku di suruh memilih lemari. Aku memilih warna
merah marun.
“Aku suka yang ini, Bu,” bisikku pada ibu.
Kemudian aku di suruh memilih kasur busa. Aku pilih warna hijau toska. Setelah
itu, membawa semua barang-barangnya ke lantai 2, letak kamarku berada.
“Eh, iya. Salam kenal juga. Aku Mar’atul Latifah
Jauharin Nafi’. Panjang ya? Panggil aja Iif. Kamu?” Aku melewati beberapa
teman-teman baruku yang saling berkenalan.
“Aku
Farikhah Izzatun
Ni’mah. Panggil aja Icha,” ingin
sekali aku berkenalan, namun yah, aku masih harus membereskan barang-barangku
yang menggunung.
“Sa, jangan nakal ya, sama teman-temanmu. Jangan
pelit, jangan sombong, iri. Biasa saja. Ya?” pesan ibu sebelum pamit. Aku
mengangguk patuh. Masih saja di perlakukan seperti anak kecil. Hal yang paling
aku benci.
“Baiklah,
ibu pulang dulu. Harus betah di sini, ya?” tambahnya.
“Ya, Bu,” aku mengantar ibu sampai di pintu
kamar.
“Eh, hai. Salam kenal, ya. Aku Annisa.
Kamu?” tanyaku pada pemilik lemari di sebelahku. Aku mengulurkan tangan.
“Hai juga. Salam kenal balik. Aku Iif,”
balas cewek itu. Ia menyambut uluran tanganku.
“Sebentar ya. Aku mau kenalan sama yang lain,”
pamitku, lalu keluar kamar.
“Iya, aku Umi. Kamu lupa, ya? Atau pura-pura lupa?
Kamu ‘kan temannya Ervan,” Aku mendengar seseorang berbicara. Lalu berbalik.
Tak jadi keluar.
“Umi?!” pekikku senang. Segera menghampiri cewek
itu.
“Kamu ternyata sekolah di sini juga,” sambut Umi.
“Iya lah, masa’ dapet rejeki di buang-buang,”
aku dan Umi memang dapat beasiswa dari sekolah.
“Senang ya, dapet teman-teman baru… Eh, sini
yuk,” ajak Umi. Aku mengikutinya.
“Eh, Umi. Sini
yuk, gabung,” ajak seorang cewek berkerudung biru muda.
“Kamu juga. Sini gabung, namamu siapa?” cewek
itu menunjukku. Aku mendekat dengan ragu. Sejenak aku berhenti.
“Ayo, nggak usah malu-malu. Kita ‘kan bala,”
ucap cewek itu lagi.
“Hehehe,” mereka tertawa. Akupun ikut tertawa. Cewek
itu menarik tanganku. Lalu aku duduk.
“Umm, aku Annisa,” aku mengulurkan tangan. Cewek
berkerudung biru itu menyambutnya.
“Aku
Vira Octavia.
Vira,” jawabnya. Lalu di ikuti teman-temannya yang lain.
“Aku
Tata,”
“Fatim,”
“Aku
Idha,”
“He eh. Senang kenalan sama kalian,” ucapku
riang.
“If, temani aku ke toilet yuk,” aku menoleh. Seorang
cewek berkerudung pink dan biru, cantik sekali dan kulitnya putih bersih. Aku
terpana. Tampaknya anak orang berada.
“Cantik, ya, putih lagi. Tapi sayang, orangnya
judes,” bisik Fatim.
“Oh ya? Aku kira dia baik,” aku tak percaya. Fatim
mengangkat bahu.
“Entahlah. Lihat saja dia, dari tadi nggak mau
gabung dengan kita-kita,” tambah Idha. Aku diam saja. Memainkan ujung jilbab
putihku, berusaha menjadi pendengar yang baik.
“Allahu akbar, Allahu akbar,” terdengar adzan
Maghrib berkumandang.
“Wah, sudah adzan. Kita sholat di mana, nih?”
tanya Umi.
“Di musholla mungkin,” jawabku sambil
mengeluarkan seperangkat alat sholat.
“Tapi mendung. Lihat!” Tata menunjuk ke luar
lewat jendela.
“Coba saja lihat ke luar. Mungkin kakak kelas ke
musholla,” suruh Idha pada Fatim.
“Iya, ke musholla,” Fatim mengumumkan. Semua
teman-temannya segera menyusul.
Sampai di musholla, mereka melanjutkan
percakapan, sambil menunggu teman-teman yang lain selesai berwudhu.
"Eh, tau nggak, orang yang tadi di ruang
tamu itu, iya, yang tinggi banget itu ternyata pengasuh kita lho," Vira
berbisik. Ia menunjuk-nunjuk.
"Masa' sih?" gumam Umi tak percaya.
Aku hanya diam mendengarkan. Tak tahu apa yang harus di lakukan.
Sholat segera didirikan. Imam sholat-nya adalah
laki-laki yang tadi berada di ruang tamu. Setelah sholat dan do’a si Imam tadi
segera berdiri.
"Ehm, ehm, Assalamu'alaikum Wr.Wb,"
laki-laki yang di bicarakan Vira tadi maju ke depan. Lalu berbicara, tepatnya
sih, berpidato dengan bahasa yang sangat tidak di mengerti oleh kami –bahasa
Arab. Kami diam walau tak paham. (Tepatnya sih, karena tak paham…)
Tiba-tiba, listrik padam. Aku dan teman-teman
kaget.
"Hiy! Nih mukena punya siapa sih? Bikin
kaget aja," bisikku. Aku menekan suara cemprengku agar tidak terlalu
terdengar oleh pengasuh.
"Punyaku!" aku tidak tahu suara siapa
itu.
“Fatim,"
"Sst, kalian bisa diem
enggak sih?" Umi merasa terganggu. Ia asyik mendengarkan ceramah.
"Yee, mentang-mentang murid baru, terus di
suruh jadi anak manis gituh?" gumam Tata. Aku, Umi dan Idha nyengir.
"Ehm-ehm" pengasuh kami, yang ternyata
bernama Kak Taufik, kembali berdehem. Kami –aku cs., terkikik.
"Sst, dia tau kalo kita rame," bisik Idha,
lalu kembali mendengarkan.
"Seperti inilah suasana di alam kubur,
sendirian, gelap, dingin," lanjut Kak Taufik,
kali ini menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menurut ejaan
yang di sempurnakan.
"Hiy, mati listrik kayak gini malah
ngomongin kuburan," celetuk Vira. Namun teman-temannya tak ada yang
merespon. Ia hanya mengangkat bahu.
"Yang nemenin dan nerangin kita di kubur
hanyalah amal baik kita di dunia," lanjutnya. Ce es-ku mendengarkan sampai
selesai. Salah satu ucapan Kak
Taufik yang aku ingat,
"Ke Azza,
apa yang kau cari?"
*---3rd
Gen---*
Selesai sholat Isya', anak-anak pulang ke dorm.
Mereka saling bercanda, tertawa, bahkan lari-lari kesana kemari.
"Hiiy, Agus... Kamu bakat jadi pemain
wayang orang deh," teriak Icha melihat tingkah Agus. Ia cuma nyengir. Icha
kembali bernyanyi-nyanyi. Suaranya memang bagus, sih. Merdu. Tapi bukan MERusak
DUnia loh.
“Baby, baby, baby, ooh, like,
Baby, baby, baby, ooh, like
Baby, baby, baby, ooh,
That’s you always be mine, mine,” Icha mendendangkan lagu Baby-nya Justin Bieber
yang sedang naik daun. Vira, Idha, dan Fatim menggerombol di depan pintu kamar
kelas VIII.
“Malam setelah Isya’, biasanya di gunakan untuk
belajar,” kata Kak
Tika, kakak kelas kami, saat
mereka bertanya apa kegiatan setelah sholat.
“Tapi karena malam ini pertama kalinya kalian di
sini, jadi tidak ada kegiatan. Alias bebas. Apalagi besok kalian harus apel dan
mengikuti MOS,” lanjutnya.
“Yes! Asyik!!” seru mereka. Segera berlari ke
kamar.
"Hai teman-teman, saudara-saudari, putra
maupun putri, yang tua maupun yang muda, jangan lewatkan! Nanti malam jam 00.45
ada final World Cup, Spanyol vs. Belanda… Siapa yang mau bangun? Sama aku
ya?!" aku mengumumkan dengan semangat. Aku ‘kan gibol. Gila bola.
Banyak komentar dari teman-teman.
"Sepakbola? Nggak banget deh, Sa. Aku nggak
suka," Icha merespon.
"Aku mau bangun! Aku dukung Spanyol!"
seru Umi. Umi mengacungkan dua jempolnya untukku.
"Aku nggak nonton. Tapi aku dukung
Belanda," sahut Idha.
"Aku dukung Spanyol aja. Mudah-mudahan bisa
bangun," jawab Dwi.
Mereka telah menyusun kasur busa mereka. Aku di
apit oleh Umi dan Iif. Di sebelah kanan Iif, ada Icha. Ia terlihat asyik
menggambar sambil bersenandung kecil. Aku dan Iif merubungnya.
“Kamu hobi nggambar ya, Cha?” tanya Iif.
“Nggak juga sih. Aku lebih suka nyanyi,” jawab Icha
tanpa menoleh. Ia masih asyik dengan gambarnya. Aku beralih ke kasurku,
mengobrol dengan Umi.
"Hey, kamu nggak pasang alarm dulu?"
aku mengingatkannya. Umi yang tadinya bersiap tidur kembali meraih ponselnya.
"Jam berapa Sa?" tanyanya kemudian.
"Umm, jam 00.45 aja," jawabku.
"Eh Annisa, Umi, coba lihat kesini
deh," ucap Iif. Aku mendekat.
"Apaan?"
"Nih, kamu bisa nggak, nyetting temanya?
Susah banget," Iif menyodorkan ponselnya ke arahku.
"Gini sih, kecil," jawabku
mengotak-atik ponsel Iif.
"Tuh ‘kan, udah bisa, kamu aja yang nggak
sabaran," aku menyerahkan ponselnya. Iif berterimakasih.
"Ahh, malang sekali nasib
kita...Hahaha," tawa Fatim pada Idha.
“Nggak ah, biasa aja,” jawab Idha ketus. Ia
kesal sekali. Belum sehari di sini sudah dapat musibah. Aku melirik mereka
berdua.
“Ada apa?”
Namun Idha hanya menunjuk dengan matanya ke arah
kasurnya dan kasur Fatim, yang kini telah di tempati Amel. Bahkan tak hanya
kasur, bantal milik Idha pun di pakai Amel untuk tidur.
“Sudahlah, nanti tidur sama aku ‘kan bisa,” Tata
menenangkan. Sedangkan Fatim malah sudah Pe We –Posisi Wuenakk di dekat Tata.
Aku tak bisa menahan tawa.
"Hey, kalian nggak tidur?" tanya Icha.
"Kamu sendiri nggak tidur gitu kok,"
jawab Iif.
"Yah, masa’ teman-teman nggak tidur, aku
kok tidur sendiri," jawab Icha.
"Lagi pula nggak ngantuk, kok,"
lanjutku. Icha mengacungkan kedua jempol tanda setuju.
"Eh, teman-teman, sst, diam, Kak Taufik
mau kesini," Idha mengumumkan. Semua tak merespon. Aku dan Umi sedang
mengobrol tentang hasil final nanti. Seru banget.
“Kayaknya nanti berakhir dengan penalti,”
ucapku. Umi mengangguk.
“Dan pasti Spanyol juaranya,” sambutnya riang.
Iif dan Icha sedang bercakap-cakap.
“If, kamu anak orang kaya, ya?” tanya Icha. Ia
dan Iif sedang seru membicarakan sesuatu. Iif menggeleng.
“Nggak kok. Biasa aja,” jawabnya.
Dwi, Uswah, Vira dan Fatim bermain ponsel.
“Hey, games di ponselku baru-baru semua lho,”
pamer Fatim pada mereka. Semuanya mendekat.
Tata dan Roya membicarakan tentang keluarga
meraka. Idha gemas sendiri. Ia beranjak ke kasur Tata, bersiap tidur sambil
sesekali menimpali cerita mereka.
“Tok, tok, tok,” pintu di ketuk. Umi yang telah
membuka jilbabnya segera meraih dan memakainya. Aku langsung menutup mata,
pura-pura tidur. Yang lain diam.
Setelah semua beres, Roya membuka pintu. Ternyata
benar kata Idha, Kak Taufik.
"Kok belum pada tidur? Kalian pikir ini jam
berapa?" tanya Kak
Taufik.
“Aku pengin nonton final World Cup, Kak,” aku
tak tahan untuk tetap berpura-pura tidur.
“Iya kak, ini ‘kan terakhir kalinya, besok sudah tidak ada
lagi,” Umi dan Dwi mengiyakan.
“Tapi World Cup masih lama. Ini baru pukul
11.15,” jawab Kak Taufik.
“Iya, baru pukul 11.15 kok di suruh tidur?” aku
balik bertanya. (Kurang ajar sekali pertanyaanku. Hehe...)
“Ya sudah terserah kalian, yang penting kalian
harus tidur. Kakak juga mau nonton, kok. Kalau kalian mau, nanti kakak
bangunin,” Kak Taufik menyuruh anak-anak. Kemudian pergi.
“Hah! Baru enak-enak cerita malah di suruh
tidur,” Icha membuang selimutnya. Ia segera duduk.
“Iya, nyuruh tidur, tapi dia sendiri belum
tidur,” omel Iif. Yang lain melanjutkan aktivitas mereka yang sempat terganggu
oleh penampakan Kak
Taufik. (Jahat sekali. Masa’
penampakan?! Genderuwo kale…)
"Wah, kamu ini bisa aja, Ta," kata Dwi
di sela-sela tawanya. Aku termenung melihatnya. Teringat sesuatu. Dwi itu…
"Oh iya, Sa, aku ‘ntar nggak jadi nonton
deh," ujar Dwi. Panjang umur…
"Kenapa?"
"Kayaknya aku nggak kuat, ngantuk..."
jawab Dwi. Aku sedikit kecewa.
"Kamu nonton kan? Umi?" tanyaku. Aku
berharap dapat nonton World Cup terakhir tahun ini. Juga terakhir di dorm ini. (Hiks,
hiks…)
"Ya. Cepatlah kamu tidur. ‘Ntar nggak kuat
lo..." jawab Umi malas.
"Ya, ya..." setengah hati, aku
berbaring juga.
“Oh,
besok sudah sekolah ya? Nggak nyangka udah kelas VII,” ucapku.
“Iya, cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku
ikut UN,” tambah Roya.
“Juga rasanya baru kemarin aku nonton Opening
World Cup,” seruku. Teman-teman yang lain mengingatkan.
“Annisa, suaramu! Nanti Kak
Taufik kesini lagi,” Dwi
mengingatkan.
“Ops!” aku menutup mulut. Sorry all…
Yang lain segera sibuk dengan aktivitas mereka.
Beberapa saling mengingatkan agar tidak berisik. Namun akhirnya tidak bisa
menahan suara-suara mereka yang cempreng bak seribu panci peyok karatan jatuh
dari puncak Monas. (Itu sih, nggak terlalu gaduh suaranya)
“Roya! Tolong dong, nyalain lampunya! Satu aja.
Iya yang barat. Nah, sip!” teriakku. Teman-teman sudah capek mengingatkan. Biarkan
saja, toh paling-paling cuma Kak
Taufik yang kesini nanti.
Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas. Idha yang
melihatnya segera berbisik.
“Kak Taufik datang!” beberapa saat kemudian
semua penghuni kamar 02 terlihat rapi dengan kerudungnya, sedikit lebih tenang
namun hanya beberapa yang pura-pura tidur. Yang lain duduk bahkan ada yang
berdiri.
“Kalian! Kenapa nggak tidur-tidur juga?! Suara
kalian itu terdengar sampai kamar kakak,” tegur Kak Taufik. Dia berdiri di
depan pintu. Semua terdiam.
“Besok kalian harus ke sekolah. Kenapa belum
tidur? Kalian bisa ngantuk di kelas,” ceramah Kak Taufik.
Aku menunduk. Yang lain diam.
“Belum ngantuk kok, kak,” jawabku memecah
keheningan. Yang lain mengangguk membenarkan.
“Ya sudah, dipejam-pejamkan saja matanya, ‘ntar
juga tidur sendiri,” Kak Taufik menutup pintu.
Sepertinya mereka telah mengantuk. Aku
merebahkan badan. Sudah mengantuk. Yang lain juga. Hanya beberapa yang masih
‘hidup’. Uswah dan Idha main game di ponsel mereka. Akhirnya lampu dimatikan.
Aku tidur dengan bahagia.
*---3rd
Gen---*
Ini cerita buatan gue yang terinspirasi dari kalian. Makasih udah mewarnai hidup gue dengan warna-warni yang indah. :)
inilah thirdgen
inilah thirdgen
bosan,sebal, dan gak betah. kata itulah yg mewakili perasaanku saat pertama kali aku masuk asrama. semuanya terasa asing, dan tidak bersahabat. yg tadinya tidak perlu antri mandi, jadi harus antri. yang tadinya tidak perlu berbagi tempat tidur, jadi harus berbagi dll. saat itu aku merasa tidak betah, dan selalu ingin hari cepat berlalu menjadi hari sabtu. tetapi hari berganti hari,minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, aku mulai merasakan 'solidaritas' yg kita punya. aku mulai bangga menjadi bagian dari kalian, sungguh. bahkan jika yang dulunya aku benci hari senin menjadi aku benci hari sabtu. kalian yang berasal dari berbagai tempat, mengajarkanku budaya dari tempat kalian masing-masing. kalian, ya kalian! ingatkah saat class meeting? atau room meeting? betapa ramainya suara yang bersahutan menyemangati, memperhatikan, bahkan ikut membantu. kita memang bukan terlahir dari satu ibu, tetapi kita lebih dari seorang keluarga. Afif yg pendiam, tapi kadang juga gokil Agus yang supel, pinter, good-looking (ciye) Annisa yg lucu,konyol,smart, dan kadang pake krudungnya asal-asalan (peace) Andika yang gaje (banget), humoris Deni yang gaje pol iki malah (peace den) Faris yg leadership,supel,ramah Fatim yang gaje,jail,humoris(sitik) Fiky yang pinter kaligrafi,kadang juga gaje sih.. Ida yang pol jail,pol-polan ah sampek sebel kadang (salam watahok) Imam yg kalem tapi ternyata humoris,smart,baik,dll,
Jamil yang good-looking,smart,mancung,handsome,dll :D(spesial person :D) Iif yang pinter nyanyi, supel, (my twin) Ilham yg pendiem(kadang),smart,kocak Irvan yang kalem,supel,pendengar yang baik,smart. Al-farizi yang imut, walaupun kadang nyebelin, good-looking. Kevin yang gaje,seru,kocak,dll. Ato' yang kocak,kadang nyeremin juga sih. Rizkiawan yang kayaknya pendiem tapi gak, smart,supel,ahli design,black sweet,dll. Bowo yg care,good-looking,smart. Dwi yang suka nyanyi,yang suka banget sama coklat,. Rosy yang kalem,alim,cantik,smart. Uswah yang gila,yang setres,yang gaje,yang nyebelin tapi baik,supel,crewet banget, dan pendengar yang baik. Tata yang suka olahraga,supel,smart,yang pertama bisa gerakan roly poly (haha). Umi yang k-popersnya gak ketulungan,yang sekarang kurusan(ciyee) yang supel,baik,enak diajak ngobrol,pendengar yang baik. Yusuf yang gaje,yang rumahnya diplosok Lina yang culun,yang supel,smart,enak diajak ngomong,dan pendengar yg baik(my culun) Amel yang ngeselin,yang gaje, yang sok cantik (apa lu mel :p) Vira yang suka nyanyi juga,yang tomboi banget, suka banget narsis,dll Mahardika yang pendiem,alim,khusu', tapi humoris juga. aku kangen kalian semuaaa :') kenapa kebanyakan aku tulis gaje? karena sebenernya aku gak begitu tahu sifatnya hehe. makasih buat 3 tahun yang penuh warna ini. makasih udah mau nerima aku yang cerewet,yang ngeselin,yang ceroboh, yang gak sempurna :') makasih buat semuanyaaa:) salam kangen buat kalian semua;) good luck buat kita semuaaa ;;)
sahabat
sahabat
Pertama kali masuk, aku gak begitu suka tempat ini. Gak ada orang yang aku kenal. Sampai akhirnya aku ketemu orang yang ku kira sinis tapi ternyata mudah bergaul. Icha, begitulah aku memanggilnya, kita semakin deket dan akhirnya jadi sahabat. Tapi dia bukanlah sahabat satu-satunya untukku. Aku punya banyak sahabat yang mau ndengerin semua ceritaku, yang mau hibur aku kalo lagi sedih, yang mau bantu aku kalo aku butuh bantuan. Merekalah keluarga keduaku. Gak pernah ada perbedaan diantara kita. Baik yang miskin atau kaya, cantik atau jelek, pinter atau bodoh, gak ada perbedaannya sama sekali. Di tempat inilah kita dipertemukan menjadi sebuah keluarga yang saling mengasihi satu sama lain. Boarding School Az-Zahra, tempat dimana aku mengerti arti sebuah keluarga, tempat dimana aku bisa mendapatkan pelajaran hidup yang bisa membuatku menjadi lebih baik. Senang bersama, susah bersama, semua kita lakukan bersama-sama. Meskipun kita berasal dari tempat yang berbeda-beda tetapi, kita tetap bisa bersatu dalam menghadapi permasalahan, dalam berbagi kebahagiaan, bahkan dalam suasana yang sedih pun, kita masih tetap satu. Selain suasana di boarding atau lebih sering kita memanggilnya asrama, ada hal yang lebih membuatku bahagia ketika berada di sana, yaitu teman-teman satu angkatanku. Meskipun awalnya kita tak saling mengenal, tapi pada akhirnya kita saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Kita tak hanya menjadi seorang teman, tapi kita adalah suatu keluarga yang satu. Banyak peristiwa yang menjadi kenangan indah untuk kita. Salah satu hal yang paling aku sukai ketika ada perlombaan antar kamar di asrama kita. Saat itulah aku merasa kita benar-benar satu. Saat pertandingan bola basket putri, pertandingan sepak bola putra, pertandingan voli putra dan putri, dan masih banyak lagi. Saat itu aku merasa kekompakan itu ada, kita saling mendukung, kita saling menyemangati, dan kita saling menasehati satu sama lain. Hingga akhirnya perpisahan itu datang, ketika kita berada pada panggung perpisahan, dimana terakhir kali kita dapat berkumpul bersama dan bercanda bersama. Meskipun kita tetap bisa bertemu dan berkumpul di lain waktu, tapi akan sangat berbeda jika biasanya dari kita mulai membuka mata dan menutup mata kembali selalu bersama, dan saat ini kita tak dapat melakukannya lagi. Tapi aku yakin, meskipun kita berada di tempat berbeda, pada saat kita bertemu dan berkumpul kita akan biasa layaknya keluarga yang telah lama tak bertemu. Tak ada kata canggung diantara kita, karena kita satu.
By: Zunia Nafi'atullina
Kesuksesan yang Penuh Rintangan
Kesuksesan
yang Penuh Rintangan
11 Juli 2010....hari itu akhirnya
datang juga hari dimana kami akan memulai kehidupan baru kami di asrama dan
hari dimana kami akan menemukan jatidiri kami.
Pondok Pesantren AZ-Zahrah, ya itu
adalah tempat yang akan kami tinggali selama tiga tahun untuk mencari ilmu. Dan
di tempat ini juga kami mulai mengenal satu sama lain,tem pat dimana kami
menjadi satu keluarga, dan tentunya tempat dimana Third Generation tebentuk.
Hari senin pun tiba, kami pun mulai
bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ya hari ini adlah hari pertama kami masuk
sekolah. Kami memulai hari dengan penuh semangat dan dengan penuh harapan. Kami
ingin selepas kami lulus dari sekolah nanti kami bisa menjadi orang yang
sukses.
Mungkin di minggu-minggu pertama kami
masuk ke asrama kami masih belum bisa melupakan suasan rumah, dan selalu
teringat dengan keluarga yang ada di rumah. Dan banyak dari beberapa kami yang
menangis, jatuh sakit karena belum krasan. Dan banyak kejadian- kejadian lucu
padaminggu-minggu pertama ini. Seperti ada yang ngelindur sambil mengejar
temannnya,ada yang nangis sambil ditunggui ibunya di kelas,ada yang suka
menyendiri, ada yang selalu dibawakan air dari rumah karena takut anaknya sakit
dan masih banyak lagi. Dan tentunya hal-hal seperti inilah yang akan kami ingat
setelah kami lulus nanti dan menjadi kenangan indah.
Di kelas VII ini kami mulai mengenal
apa arti sahabat dan apa gunanya punya sahabat. Ya sahabat akan menjadi sesosok
penghibur di saat kita sedih. Menjadi penyemangat saat kita jatuh.
Hari demi hari,bulan demi bulan telah
kami lewati, dan tidak terasa kami telah menjadi kelas VIII. Disinilah kebersamaan
kita mulai terjalin. Kami tidak lagi Mengenal lagi perbedaan kelas, bagi kami semua sama dan
bagi kami semua adalah keluarga. Akan tetapi di tahun inilah kami mulai
mendapat beberapa masalah yang cukup membebani kami. Kami sering dibandingkan
dengan kakak-kakak kelas kami. Banyak yang mengatakan bahwasanya kakak kelas
kami jauh lebih pintar daripada kami,mereka juga lebih baik perilakunya
daripada kami, ada juga yang bilang kami adalah generasi yang hilang. Kami
sempat minder dengan apa yang telah mereka katakan. Dan kami pun merasa
bahwasannya generasi kami memang generasi yang paling buruk. Jadi kami sempat
cuek dengan apa yang orang-orang katakan tentang kami, kami pun sering
melanggar peraturan dan sering nakal. Karena beberapa dari kami berfikiran
“kalau sudah rusak ya sekalian rusak”. Akan tetapi kami sadar bahwasannya hal
itu tidak menyelesaikan masalah, jadi kami sedikit demi sedikit mulai sadar dan
berbenah untuk menjadi lebih baik.
Dan tak terasa waktu berlalu begitu
cepat, kami pun sudah menjadi kelas IX. Dan masih banyak yang meragukan
bahwasannya generasi kami akan lulus dengan nilai yang memuaskan. Akan tetapi
hal itutidak membuat kami down justru ha itu-lah yang membuat kami termotivasi
untuk membuktikan bahwa yang orang-orang katakan itu salah. Kami pun berusaha
belajar dengan sungguh-sungguh. Tujuan kami adalah kami bisa lulus Un dengan
nilai yang terbaik dan dapat masuk ke sekolah favorit.
UN pun datang, siap tidak siap kami
harus menghadapinya, karena inilah saatnya untuk membuktikan generasi kami
adalah generasi yang tebaik. 4 hari pun berlalu, dan alhamdulillah kami dapat
melewatinya dengan lancar. Kami tinggl berdoa dan bertawakal kepada Allh SWT,
sambil menunggu pengumuman. Dan sendari kami menunggu pengumuman , kami
mendapat berita yang menggembirakan 6 orang dari kami diterima di MAN IC,
sekolah favorit yang paling dituju di
sekolah kami. Kami merasa sangat senang. Kami juga merasa puas, akhirnya kami
dapat membuktikan bahwasannya generasi kami tidak seburuk yang orang-orang fikirkan.
Acara perpisahan pun tiba, acara
dimana perasaan kami menjadi campur aduk antara senang sedih, dan
deg-degan.senang karena akhirnya kami dapat menyelesaikan masa MTS kami, sedih
karena kami tahu acara ini mungkin detik-detik terakhir kami bisa berkumpul dan
tertawa bersama, dan deg-degan karena kami masih menunggu hasil UN kami. Kami
pun melalui acara ini dengan suka duka. Dan acara pun ini berjalan dengan
lancar dan acaranya pun sangat menghibur. Dan kami berharap acara ini bukanlah
akhir dari cerita persahabatan kami. Dan kami berharap cerita persahabatan kami
terus berlanjut sampai maut menjemput.
Dan hasil UN pun telah keluar, kami
sudah tak sabar untuk melihat hasilnya. Dan alhamdulillah kami lulus 100%
dengan nilai yang cukup memuaskan. Kami puas dan merasa sangat senang sekali.
Satu persatu dari kami pun mulai
mengemasi barang-barangnya. Itu pertanda bahwasannya kami akan mulai berpisah
tempat. Kami harus menerima kenyataan ini, benar kata pepatah bahwasannya
setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan kini hal itu telah terjadi. Tetapi
kami menganggap perpisahan ini bukanlah pertemuan terakhir kami akan tetapi ini
hanyalah perpisahan tempat kami. dan hati dan raga kami tetaplah satu yaitu
THIRD GENERATION.
Kawan mungkin kita memang sudah tidak
bisa lagi tinggal bersama-sama, mungkin kita akan jarang lagi untuk tertawa,
menangis, bersama. Tapi ingat kawan kita pernah tinggal satu atap selam tiga
tahun. Kita juga sudah membina kebersamaan ini dengan baik. Saya berharap
kebersamaan dan kekeluargaan ini selalu
terjaga. Jadi tanamkan dalam hati kecil kalian bahwa kita adalah keluarga, dan
kita tetap menjadi satu tubuh yaitu Third Generation.
Dan saya juga berharap bahwa
kesibukan kalian selama di sekolah tidak membuat kebersamaan kita berkurang.
Saya tahu kalian semua sibuk dengan urusan kalian masing2, tapi apalah beratnya
menulis sepenggal cerita untuk menghibur satu sama lain. Lagian ini juga untuk
menjaga jebersamaan kita kan?maaf jikalau perkataan saya menyinggung kalian,
tapi ini demi kekompakan kita













